The View of Life From This One Little Rosebud

17 October, 2009

Dear World. Guess What? I’m back x))

Filed under: college, diary, kehidupan — aulia/rizda @ 3:26 pm

Nah. Kebiasaan lama kumat, as what I would expect.

Kalo punya blog, nggak pernah telaten diurus. satu-dua bulan nulis dikit, terus ditinggal. Kayak yang ini nih (pardonnes-moi blog kuu =P)

But now. . I’m baaaaaaaaaack (okay, aku memang lebai.)

And I gez I would enjoy this even more karena sekarang orientasiku buat nulis disini semata cuma buat menulis apa yang aku pikir aku harus tulis. That means, any feedback would be GREAT dan aku masih sangat mengharapkan orang-orang membaca blog ini, tapi kalo toh mereka nggak meninggalkan jejak di blog ini, that’s okay. I also write for my own, not only for others.

Alors, c’est une petite liste des evenements dans ma vie after one year of not writing here! :

  • Kuliah Semester Tiga!

             Aku udah memutuskan untuk mengambil konsentrasi Ekonomi Politik Internasional mulai semester tiga. Aku ambil 8 mata kuliah: Politik & Pemerintahan Amerika Serikat, Pol&Pem Afrika, Pol&Pem Timur Tengah, Sejarah Diplomasi Eropa (Haven’t I tell you that I loooove history?), Ekonomi Politik Internasional, Politik Kerjasama Internasional, Teori Politik Internasional (filsafat politik! asik lho =) jadi inget dulu waktu SMAsempat pengem masuk filsafat), dan Perbandingan Politik =). IP-ku di tahun freshmen juga memuaskan, meski aku nggak terlalu peduli soal itu.

  • Peace Generation!

         Aku sempat vakum dari komunitas ini gara-gara sakit dan harus opname di RS (yeah). Makanya aku maklum kalo banyak mbak-mbak dan mas-mas disini yang masih nggak tahu namaku. Hehe =) Disini aku ketemu banyak orang yang punya gaya hidup berbeda dan menarik. Kita belajar buat menerima orang apa adanya, meskipun mungkin nilai-nilai yang orang itu anut tidak tepat menurut kita. Belum tentu nilai yang kita anut mutlak benar, lho.

         Terakhir aku ketemu Mbak Ema, Nurul, Ardha, Linche, Rosyid, Ardha, Deje, Mas Dana, Mbak Eka, dan Mas Juned di stan PeaceGen di GamaFest 2009. Semoga besok aku bisa melibatkan diri lebih sering di lebih banyak kesempatan =))

  • INKA

        I’m not gonna lie: aku mau jadi Koordinator Mading Departemen Intrakulikuler dan Akademik KOMAHI UGM tahun ini cuma karena aku mau nolong temenku. Alasan itu bertahan sampai sekarang. Agak susah memang bagi dia untuk nyari staf baru INKA, karena departemen ini nggak se-eksis DASS (yang membidangi Seni dan Sastra gitu. ajib banyak banget anggotanya) atau DPSDM. Aku bisa kenal beberapa anak HI 2009 yang semuanya sweet lewat INKA. Dua minggu sekali kita bikin mading bareng and it has always been fun. Tho, aku berharap INKA bisa lebih terorganisir lagi. Kalo nggak, bisa berantakan atau malfungsi.

  • KOMUN di FH UGM –> Komunitas Models of UN di Fakultas Hukum.

        Aku daftar kesini karena diajak temen, hahaha. Disini orang-orang berbagi (Atau, ‘mengajari’, karena aku bener-bener tolol soal MuN) how to deal with MuN (Models of United Nations) things. Seru, ternyata. Tapi, aku nggak mendaftar jadi PIC karena aku nggak yakin itu nggak akan memberatkanku. Tugas kuliah aja udah banyaaak banget. Lagian, sepertinya PIC itu sibuk banget xP. Dulu, aku malas datang karena suasana KOMUN tegang. Aku juga nggak pernah bicara di depan kelas. Simply males. Tapi, semakin lama akhirnya situasi jadi less clumsy or awkward. Aku juga jadi sadar untung dulu ikut acara ini =)

Aku juga mau daftar kursus Tari Jawa Klasik di Taman Budaya. Sayangnya sampe sekarang nggak sempat-sempat telpon xP

dan berita bagusnya, aku sudah daftar kursus Tari Saman di HI UGM! Gurunya temenku sendiri, Sarah. Kayaknya asik deh. Aku udah bisa satu gerakan, diajari sama Thifa & Nova =))) can’t wait ’till I start to learn other movements! hahaa =DD

 

Oke, World. Itu aja deh buat saat ini. See you around, hopefully soon!

30 November, 2008

Bantuan Administrasi?

Filed under: diary, etika, kehidupan, sosial — aulia/rizda @ 9:38 am

Saya paling malas kalau disuruh masuk ke kantor polisi. Haaaaaah, bawaannya pasti prasangka buruk. Kenapa ya? Mungkin karena ada stereotip yang beredar di masyarakat bahwa polisi Indonesia itu adalah orang nyebelin yang sukanya narikin uang korup dari masyarakat, yang kalau masih muda biasanya sok ganteng. Hahahahaha. Meskipun saya termasuk orang yang menganggap bahwa tidak semua stereotip adalah benar, saya termasuk setuju dengan stereotip ini.

Buktinya, waktu saya berniat membuat Surat Tanda Bukti Lapor Kehilangan Barang/Surat-Surat di Polres Bulaksumur, Sleman, DIY, saya diminta ‘bantuan administrasi’. Lah? Dulu waktu SMA saya pernah buat surat yang sama di Polres Wirobrajan tapi bebas biaya.

Sebenarnya sih jumlah ‘bantuan administrasi’ itu se-’rela’-nya kita, tapi ya mosok mau dikasih 1000 perak?? Ya udah deh, dengan terpaksa, saya memberikan selembar uang 10.000 an….T_T

KESEL.

Buat Pak Bambang, Kapolri baru kita, kalau memang Anda bersungguh-sungguh ingin memberantas preman, jangan lupa berantas dulu ‘preman-preman’ di dalam korps yang anda pimpin.

29 November, 2008

Mumbai Berdarah

Filed under: kehidupan, sosial — aulia/rizda @ 8:49 am

Saya selalu menganggap bahwa manusia adalah makhluk baik yang setiap saat bisa dibutakan oleh suatu hal tertentu: materi, jabatan, atau mungkin ideologi yang salah. Pada hari Kamis kemarin di Mumbai, India, terbukti bahwa ideologi ekstrem yang tertanam di dalam pikiran  seseorang, atau sekelompok orang yang disatukan oleh suatu kepentingan tertentu, bisa membuat mereka berubah menjadi tidak manusiawi lagi secara sangat menyedihkan. Menurut laporan terkini yang saya saksikan dari TVOne, lebih dari 160 orang meninggal dunia, lebih dari tiga ratus orang luka-luka, dan yang lain masih tertawan di dalam gedung.

20050123001303012

Motif penyerangan secara pasti belum diketahui, namun menurut Kompas yang terbit kemarin, ada salah satu kelompok yang mengklaim bahwa peristiwa ini adalah untuk mengenang para anak dan ibu  Muslim yang terus diintimidasi oleh kekejaman pemerintahan AS dan Inggris.

Ya, saya paham betapa sakit hatinya kita jika melihat ibu dan anak-anak –dari suku apapun atau agama apapun— menderita karena diintimidasi pihak lain. Saya paham sekali bagaimana akumulasi ketidakberdayaan kaum ini mungkin menjadi rasa frustasi yang akhirnya menular kepada orang lain. Seperti kata salah seorang dosen saya, frustasi bisa menimbulkan pikiran anarkis.

mahal1_516x350_16981a

Tapi saya tidak paham dengan fakta bahwa walaupun kelihatannya sangat siap membela saudara seagama mereka, orang-orang seperti ini tidak berhasil menaruh agama sebagai penahan pikiran anarkis mereka. Saya tidak paham mengapa mereka harus menembaki para turis yang tidak hanya berasal dari AS dan Inggris, dan kalaupun mereka hanya menembaki warga AS dan Inggris, saya tidak paham mengapa mereka lupa bahwa warga AS dan Inggris itu bisa tidak punya peran sama sekali dalam pengambilan keputusan oleh negaranya. Bukan salah mereka Bush tetap ingin ada di Iraq. Bukan salah mereka Blair mendukung Bush saat ia masih menjadi PM Inggris.

Lebih jauh lagi, kaum beragama macam apa yang memberondongi rumah sakit dengan peluru? Saya selalu berharap orang-orang ekstrem seperti ini suatu saat sadar bahwa tiba-tiba datang menyatroni suatu tempat dan menembaki orang-orang di dalamnya secara asal-asalan bukanlah sesuatu yang akan membuat mereka makin dekat dengan ‘apa yang mereka perjuangkan’. Saya juga selalu berdoa agar mereka berhenti menjadikan agama sebagai justifikasi perbuatan mereka; itu akan membuat agama itu menjadi buruk citranya di kalangan awam.

Pemerintah Pakistan dan India harus bekerja sama dalam masalah ini untuk menumpas kaum ekstremis di wilayah kedua pihak. Para anak harus diberi pendidikan yang cukup dan shahih tentang agama mereka, tentang toleransi, dan tentang perdamaian. Setiap jiwa harus diberi ajaran tentang bagaimana kita wajib menghormati kehidupan orang lain. Setiap orang harus diberi pemahaman agar tidak serta merta merasa diri paling hebat dan paling suci untuk menentukan apakah seseorang patut mati atau tidak sementara kita bukan Tuhan atau pengadilan

Sudah cukup orang-orang tak berdosa menjadi korban. Mereka toh hanya kebetulan saja ada di tempat sasaran para teroris. Mereka hanya kebetulan ada di rumah sakit, atau di Kafe Leopold, atau di Hotel Taj Mahal…bisa saja sayalah yang ada disana. Bisa saja Andalah yang ada disana. Kita tidak akan pernah tahu bahwa mungkin suatu saat hal seperti ini akan terjadi lagi karena usaha yang tidak maksimal untuk menghentikannya.

25 November, 2008

Une Petite Gratitude pour Ma Mére – A Little Gratitude for My Mother

Filed under: diary, kehidupan, keluarga — aulia/rizda @ 3:15 pm

Have you ever realized that you indeed love and miss your mother so bad?

Three days ago I received a package from Bali (where my parents live by now) and was given back my bright-colored pencil jeans, the one that I accidentally left in my Auntie’s house in Lombok when I was on my vacation there.

Inside the box–-a white carton-made box with the words ‘Barbie’s box’ written on it–which spontaneously made me assume that the box belonged to Thenie (my little sister)—my mom wrote a short letter for me.

Anyway, before you read the letter, you’d better know that on November 7 I lost my high school clutch (along with my driver licence, Surat Tanda Nomor Kendaraan, ATM card, Gadjah Mada Health Centre Card (GMC), Video Rentals Members (Ezy and Ultra Disc), and some valuable sum of money) and that my parents plan to leave for Saudi on November 26 until January 5 to do what Muslims call as ‘Hajji’.

so here’s the letter:

Bali, 20 Nop 2008

Ass. Wr. Wb.

Ytc. Mbak Rizda di Jogja

Semoga kabar mbak baik-baik aja ya, walaupun duitnya abis-abisan.

Mama ga bisa kirim apa-apa (yang lain, maksudnya..) karena ngirim paketnya mendadak dalam arti dari kemarin-kemarin lupa terus, begitu ingat, waktu udah amat mendesak.

Maaf ya.

O ‘ya rencana keberangkatan mama & papa ke Mekah mohon didoakan terus agar mama & papa sehat selamat selama 4 minggu hingga pulang nanti. Untuk diingat-ingat aja, semua hal sudah diasuransikan tapi kalau ada apa-apa Insya Allah nanti udah ada untuk back-up nya.

Ya segitu aja dulu ya.

Baik-baik jaga diri. Ok?

Wassalam,

Mama.

—-

Jogja, 05.00 PM, in my room:

Ma, ni Ida (remember that I also lost my cell phone and I have to buy a new number to communicate with people?).

Bsk2 dsna jg diri y.

Jgn lp mkn + olhrg + tdr ckp.

Doain br Ida g suka ngilangin brg lg,

Bs lbh dkt sm Allah,

Bs survive d lingkungan kampus,

& bs disayangi sm org-org yg Rizda syng (ha3)

Je t’aime maman chérie – Love u mama dear,

Rizda.

And anyway,

Maybe you should send your mom the same text to let her know that you love her before everything’s too late…

23 November, 2008

My Another Vain Stupidity

Filed under: diary, kebodohan, kehidupan — Tags: , , — aulia/rizda @ 11:39 am

I can’t believe I’m losing my cell phone again! Noooooo! Kali ini dicuri di kamar temen waktu kita semua keluar kamar buat makan siang, dengan keadaan pintu kamar lupa dikunci dan jendela nggak tertutup rapat…

Oh, iyaa. Bego banget.

Saya terpaksa harus menggadaikan tivi buat beli hp baru (nggak tega minta yang baru ke orang tua)…ck ck…

Kenapa ya? Padahal saya sudah cukup banyak berubah menjadi lebih hati-hati sejak kehilangan dompet 15 hari yang lalu…ternyata toh masih kecolongan juga…

Ya sudahlah, mau gimana lagi…it’s already a fait accompli ‘kan…

huaaaaaaaaa tapi sediiih bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!

Paris Hilton vs This African Girl

Filed under: college, kehidupan, sosial — aulia/rizda @ 11:24 am

Apa yang ada di pikiran Anda saat melihat (dan membandingkan) dua gambar di bawah ini?

800px-paris_hilton2poverty1

Seorang dosen saya, Profesor Mohtar Mas’oed, sempat sedikit menerangkan tentang salah satu masalah modern yang tumbuh semakin lama semakin besar: Social Inequality—Kesenjangan Sosial pada kuliah paling current-nya di kelas Pengantar Ilmu Hubungan Internasional saya. Setelah sebelumnya mengatakan bahwa “mungkin Anda tidak akan tergerak dengan keadaan ini karena Anda, para mahasiswa, sudah terbiasa dimanjakan oleh harta orang tua”, beliau membeberkan fakta dari UNDP, bahwa:

1. pada tahun 2005, separoh dari penduduk dunia punya pendapatan kurang dari $2 per hari

2. Ada 20% penduduk di dunia yang secara ekslusif menikmati 80% dari semua produk di dunia ini, sementara 80% penduduk yang lain secara ‘keroyokan’ berebut 20% dari sisa barang produksi di dunia.

Tulisan saya bukan hate letter kepada Paris. Kalau mau, saya toh juga bisa mengganti gambarnya diatas dengan sosialita lain, Kim Kardashian misalnya. Hanya, karena orang-orang lebih tahu Paris dibandingkan Kim, maka saya menggunakan Paris sebagai contoh.

Bahkan, mungkin saja kita termasuk orang-orang yang harus disadarkan tentang betapa parahnya kesenjangan sosial di dunia ini, sehingga kita akan terpanggil untuk menjadi seorang sukarelawan daripada menghambur-hamburkan uang untuk membeli sepotong kaos seharga satu juta = ) !

Seperti apa saya?

Filed under: Uncategorized — aulia/rizda @ 11:03 am

Click to view my Personality Profile page

Charlie Wilson’s War

Filed under: college, film, politik — Tags: , — aulia/rizda @ 10:51 am

"Based on a true story. You think we could make all this up?"

Pada hari Jum’at minggu kemarin, saya menonton Charlie Wilson’s War (untuk yang kedua kalinya, setelah pertama kali nonton saat masih SMA) dalam rangka mempelajari konsep Max Weber tentang kompetisi antar-elit pada kuliah Pengantar Ilmu Politik.

Film ini lebih bagus daripada perkiraan saya sebelum menonton. Tom Hanks has pulled some appreciative efforts to play Charles Wilson, an ‘unimportant’ congressman who was suddenly busy trying to help the mujahideens win the Afghanistan’s war on communism. Philip Seymour Hoffman was the greatest of all actors, once again proving his capacity by playing a dumped Greek-blooded CIA agent Gust Avrakotos. Witty dialogues, intelligent plot, plus A-list actors makes this movie simply worth-watched.

Cukup Sopankah Anda?

Filed under: etika, kehidupan — Tags: — aulia/rizda @ 10:39 am


//www.clas.ufl.edu/users/rthompso/CAKE.jpg

this is taken from the site http://www.clas.ufl.edu/users/rthompso/CAKE.jpg

Kadang kita melupakan etika-etika simpel dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, kealpaan kita sangat mungkin membuat orang lain dongkol. Berdasarkan pengalaman sehari-hari itu (baik ketika menjadi ’korban’ ataupun ’pelaku’-nya), saya mencoba merangkum kealpaan tersebut ke dalam daftar berikut ini:

  1. Memotong ucapan orang lain tanpa minta maaf
  2. Tidak mengucapkan terima kasih setelah orang lain melakukan sesuatu yang baik kepada kita
  3. Melakukan pembicaraan pribadi atau berbisik-bisik dengan orang kedua saat ada orang lain (padahal kita tidak mau orang itu tahu apa yang kita bisikkan)
  4. Masuk ke kamar orang lain tanpa mengetuk pintu terlebih dulu
  5. Tidak memberi tempat duduk di bis (atau tempat umum lain yang penuh sesak) kepada orang yang lebih butuh (wanita hamil, lansia, dll)
  6. Menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan kepada teman disebelah kita hanya agar orang lain tahu bahwa kita ’pintar’
  7. Tidak menahan pintu toko agar tetap terbuka, agar orang yang akan masuk toko tepat di belakang kita tidak akan ’terhantam’ pintu toko.
  8. Menyanyi/mengobrol/tertawa terlalu keras di tempat umum/di kamar kos/dimanapun yang banyak orangnya
  9. Menyalip kendaraan orang lain di jalan dari arah kiri dengan kecepatan tinggi
  10. Sengaja berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain hanya karena ingin dibilang pintar

De toute façon—Ngomong-ngomong, saya jadi ingat soal riset kesopanan global yang dilakukan Reader’s Digest® di 35 kota besar dari 35 negara di dunia. Metode yang dilakukan majalah yang konon punya oplah paling besar di dunia itu adalah dengan beberapa kali berbelanja barang-barang murah di toko-toko kelontong (untuk mengecek apakah para pelayan toko itu akan mengucapkan terima kasih), sengaja menjatuhkan tumpukan kertas di tengah jalan (untuk melihat apakah orang-orang disekitarnya akan membantu si periset mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan), dan masuk ke toko tepat di belakang seseorang untuk melihat apakah orang tersebut akan menahan pintunya untuk kita atau tidak.

Rupanya, Jakarta menduduki peringkat ke 28 dari 35 kota tersebut. Kita pantas malu karena ternyata budaya kesopanan yang selama ini kita banggakan tidak terlihat saat para petugas RD melakukan riset. Inilah saat yang tepat buat berbenah diri. Mulai dari sekarang, coba tanyakan kepada diri Anda sendiri: cukup sopankah saya? =)

A Raisin in the Sun

Filed under: film, kehidupan, keluarga — Tags: , , — aulia/rizda @ 2:43 am

Poster film 'A Raisin in the Sun'

Poster film

Film televisi ini diangkat dari sebuah drama broadway terkenal berjudul sama. Film yang dinominasikan pada kategori Film Televisi Terbaik Emmy Award 2008 ini bercerita tentang sebuah keluarga (African-American) negro miskin yang tiba-tiba mendapat sebuah warisan dari kematian sang kepala keluarga; dan konflik hebat yang tercipta akibat perebutan uang warisan tersebut. All that I can say is thatA Raisin in the Sun’ will make your heart choked with its dignified wisdom…and Phylicia Rashad has what it takes to delight every scene with her charm. This will fit your thinking about the meaning of family and howto change your life or reach everything that you want with all the love and relieves you could get from it.

Older Posts »

Blog at WordPress.com.